Senin, 26 Juli 2010

“Pemerolehan Bahasa dan Belajar Bahasa”

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Fenomena pemerolehan bahasa pada anak sangatlah menarik dalam kejadiannya. Hal itu disebabkan oleh adanya faktor bahwa bahasa anak bersifat unik. Keunikan itu tampak pada kekhasan bahasa anak yang memiliki karakteristik tersendiri. Bahasa anak bukan merupakan miniatur bahasa orang dewasa. Kenyataannya anak berbahasa bukan untuk memutarbailikkan, mengurangi, atau merusak bahasa orang dewasa disebabkan oleh keterbatasan kemampuan ingatan, perhatian ataupun kekurangmatangan jiwanya. Namun anak telah menciptakan aturan ataupun pola-pola kebahasaan menurut kehendaknya sendiri. McGraw dalam Tarigan (1988:4) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa ini terdapat beberapa pengetian, pengertian yang satu mengatakan bahwa pemerolehan bahasa mempunyai satu permulaan yang tiba-tiba mendadak. Kemerdekaan bahasa mulai sekitar usia satu tahun di saat anak-anak mulai menggunakan kata-kata lepas atau kata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai aneka tujuan sosial mereka. Pengertian lain mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang muncul dari prestasi-prestasi sosial, dan kognitif pra linguistik.
Mengingat luasnya bahasan pemerolehan bahasa maka dalam makalah ini akan kita bahas hanya sebatas hakekat pemerolehan dan ragam pemerolehan bahasa.

1.2 Batasan Masalah
Agar masalah penelitian lebih fokus kepada tujuan penelitian dan tidak terlalu luas, maka penulis membatasi masalah penelitian hanya pada ruang lingkup tentang “Pemerolehan Bahasa dan Belajar Bahasa”

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa hakikat pemerolehan bahasa ?
2. Apa ragam pemerolehan bahasa ?
3. Bagaimana cara belajar bahasa ?

1.4 Tujuan
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, serta batasan masalah yang diajukan diatas maka secara umum penelitian ini bertujuan:
1. Untuk menjelaskan hakikat pemerolehan bahasa.
2. Menjelaskan ragam pemerolehan bahasa.
3. Menjelaskan cara belajar bahasa.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Pemerolehan Bahasa
Berbicara mengenahi pemerolehan sesuatu bahasa, maka dengan kekecualian beberapa anak yang mengalami ganguan/cacat, semua anak mempelajari paling sedikit satu bahasa. Hal inilah yang membuat sejumlah linguis percaya bahwa kemampuaan belajar bahasa paling tidak sebagian berkaitan dengan program genetik yang memang khas bagi manusia. Sudah barang tentu bahwa tidak ada mahluk yang mempunyai sesuatu seperti kemampuan-kemampuan komunikatif kita sebagai insan manusia. Hipotesis ini ditunjang oleh kenyataan bahwa anak-anak memperlihatkan suatu keseragaman dalam perkembangan linguistik mereka, yang melalui sejumlah tahap pada usia-usia yang dapat diramalkan dan urutan tempat mereka memperoleh beraneka ragam struktur dan fungsi bahasa sangat tersusun rapi dan tetap. Kapasitas bawaan sejak lahir mempelajari bahasa, tidak terbatas pada suatu bahasa tertentu. Kita semua diperlengkapi dengan kemampuan mempelajari suatu bahasa sejak lahir, tetapi kita masih harus mempelajarinya dari seseorag, yaitu dari anggota masyarakat tempat kita hidup dan manusia menjalani proses dalam pemerolehan bahasanya
Pemerolehan bahasa pada hakikatnya diartikan sebagai proses penguasaan bahasa melalui bawah sadar (tidak disadari) dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan orang yang menggunakan bahasa tersebut. Proses ini berlangsung secara alamiah dan tanpa dikondisikan. Di dalam diri manusia proses pematangan otak merupakan suatu proses yang memakan waktu lama. Proses pematangan itu terjadi dalam dua daur yang berbeda pertama agak cepat kemudian lambat. Tarigan (1988: 4) misalnya menyatakan bahwa pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan agak tiba-tiba, mendadak, kecuali anak cacat, hampir setiap anak paling sedikit menguasai satu bahasa. Hal ini disebabkan karena anak memiliki kapasitas bawaan ini sejak lahir untuk menguasai bahasa. Kapasitas bawaan ini tidak terbatas pada suatu bahasa tertentu melainkan untuk penguasaan bahasa pada umumnya, dalam hal ini nilai-nilai sosial budaya yang teranut pada bahasa akan terinternalisasi pada bawah sadar anak.
Terdapat sejumlah ciri pemerolehan bahasa diantaranya :
1. Bahasa yang diperoleh anak berasal dari bahasa yang dipergunakan berkomunikasi secara alamiah dengan pemakai bahasa yang bersangkutan.
2. Pemerolehan bahasa lebih mementingkan isi dari pada bentuk bahasa karena pada prinsipnya anak hanya ingin mengerti dan faham akan maksud pembicaraan.
3. Dalam hal ini anak (pemeroleh bahasa) tidak mendapat penjelasan dari tata bahasa yang bersangkutan secara langsung. Anak hanya dapat merasakan penggunaan bahasanya diterima atau tidak secara sosial.
4. Pelaku bahasa tidak menyadari mengapa dia dapat menggunakan struktur pada saat dia berkomunikasi.

2.2 Ragam Pemerolehan Bahasa
Slobin pernah mengemukakan dengan baik sekali bahwa setiap pendekatan modern terhadap pemerolehan bahasa akan menghadapi kenyataan bahwa bahasa dibangun sejak semula oleh setiap anak, memanfaatkan aneka kapasitas bawaan sejak lahir yang beraneka ragam dengan interaksinya dengan pengalaman-pengalaman dunia fisik dan sosial, oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau kebanyakan pendekatan modern terhadap pemerolehan bahasa dititik beratkan pada salah satu aspek proses pemerolehan. Cairin dalam tarigan (1988: 4) menyatakan bahwa beberapa diantaranya sangat menaruh perhatian pada ciri-ciri sosial pada pengembangan sistem linguistik, yang lain pada hubungan ucapan-ucapan dini dengan perkembangan kognitif sang anak, sedangkan yang lainnya menaruh perhatian besar pada penggunaan sosial bahasa pertama/bahasa dini.
Berbicara mengenai ragam atu jenis pemerolehan bahasa memang sangat menarik, sebab dapat kita tinjau dari berbagai sudut pandang. Berikut dibawah ini adalah beberapa jenis pemerolehan bahasa berdasarkan tinjauan beberapa sudut pandang antara lain:

a) Berdasarkan bentuk
b) Berdasarkan urutan
c) Berdasarkan jumlah
d) Berdasarkan keaslian
Perlu diingat bahwa walaupun terdapat beberapa istilah pemerolehan bahasa dari segi bentuk, urutan, jumlah dan keaslian, tetapi dalam pengertian hampir sama saja. Dan dalam literatur sering dipakai berganti-ganti untuk maksud dan pengertian yang sama.

2.3 Belajar Bahasa
Belajar bahasa merupakan suatu kewajiban bagi semua orang yang ingin “menaklukkan” dunia. Bahasa pada saat ini telah menjadi suatu budaya yang patut dilestarikan keberadaannya. Dengan belajar bahasa berarti juga belajar membudidayakan diri sendiri, mengembangkan diri, dan membentuk diri menjadi manusia yang luhur. Jadi belajar bahasa merupakan upaya memperoleh pengetahuan bahasa yang bisa di permanenkan sebagai akibat dari pengalaman
Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar bahasa dipengaruhi oleh faktor eksternal (guru, lingkungan, teman, keluarga, orang tua, masyarakat, dan lain-lain) dan faktor internal (motivasi, minat, bakat, sikap, kecerdasan, dan lain-lain). Berdasarkan faktor eksternal, ada tiga prinsip belajar bahasa, yaitu :
a. Memberikan situasi dan materi belajar sesuai respon yang diharapkan siswa.
b. Ada pengulangan belajar agar sempurna dan tahan lama.
c. Ada penguatan respon belajar siswa.
Berdasarkan faktor internal, belajar bahasa dapat dibantu dengan berbagai media visual, audio, atau audio visual.
Jenis Keterampilan dan Perilaku dalam Belajar Bahasa Secara umum keterampilan belajar bahasa meliputi :


(a) keterampilan menyimak.
(b) keterampilan berbicara
(c) keterampilan membaca
(d) keterampilan menulis.
Menurut Valette dan Disk, keterampilan belajar bahasa diurutkan dari yang paling sederhana kepada yang paling kompleks (luas), yang dibedakan pula atas perilaku internal dan perilaku eksternal, yaitu sebagai berikut :
a. Keterampilan mekanis berupa hapalan atau ingatan (perilaku internal), yaitu menghapal atau mengingat bentuk-bentuk bahasa dari yang sederhana sampai ke yang kompleks. Perilaku eksternalnya (produktif) siswa meniru ajaran atau tulisan.
b. Keterampilan pengenalan (metacognition) berupa mengenal kaidah kebahasaan (perilaku internal) dan perilaku eksternalnya adalah mengingat kaidah bahasa.
c. Keterampilan transfer berupa menggunakan pengetahuan bahasa dalam situasi baru (perilaku internal). Perilaku eksternalnya (produktif) yaitu aplikasi pengetahuan/kaidah bahasa.
d. Keterampilan komunikasi berupa penggunaan pengetahuan/kaidah bahasa dalam berkomunikasi. Perilaku eksternalnya (produktif) adalah ekspresi diri baik lisan atau tulisan.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pemerolehan bahasa oleh manusia merupakan salah satu prestasi manusia yang paling hebat dalam prosesnya, pemerolehan bahasa diartikan sebagai proses penguasaan bahasa melalui bawah sadar (tidak disadari) dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan orang yang menggunakan bahasa tersebut, proses ini berlangsung secara alamih dan tanpa dikondisikan. Dalam hal ia nilai-nilai sosial budaya yang teranut pada bahasa akan terinternalisasi pada bawah sadar manusia. Berdasarkan keragaman dalam pemerolehannya dapat kita tinjau dari berbagai sudut pandang, yaitu berdasarkan bentuk, berdasarkan urutan, berdasarkan jumlah, berdasarkan media dan berdasarkan keaslian.

Saran
Dalam mempelajari teori balajar bahasa ini diharapkan para calon guru berkompeten dalam memberikan pembelajaran bahasa kepada peserta didik sesuai dengan kompeten dasar yang dimiliki peserta didik ketika masuk dalam ranah pembelajaran formal.












DAFTAR PUSTAKA

Heryanto. ____. Modul Teori Belajar Bahasa. Jombang: STKIP PGRI Jombang
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa
http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_14042/title_pengertian-belajar-bahasa/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar